Kisah masa kecil yang belum terungkap dan biografi para bintang sepak bola

Tottenham Hotspur Tanpa Gol di Empat Laga Awal Premier League, Rekor Terburuk dalam 52 Tahun
Ringkasan
Tottenham Hotspur cetak rekor terburuk 52 tahun tanpa gol di 4 laga awal Premier League 2026-27. De Zerbi akui tim belum siap, transfer Richarlison ke Vasco gagal.
Daftar Isi
- 1 Imbang Tanpa Gol Lawan Everton Perpanjang Rekor Memalukan
- 2 Empat Laga Tanpa Gol: Kronologi Awal Musim yang Suram
- 3 De Zerbi Akui Tim “Memulai Terlalu Terlambat”
- 4 Rekor 52 Tahun yang Terpecahkan — dan Kemudian Diperburuk
- 5 Saga Transfer Richarlison: Mimpi Vasco da Gama yang Kandas
- 6 De Zerbi Soal Richarlison: “Bukan Keputusan Saya”
- 7 Belanja Besar tapi Hasil Nihil: Paradoks Transfer Tottenham
- 8 Perbandingan dengan Era De Zerbi di Brighton
- 9 Dampak kepergian Son Heung-min dan Perubahan Skuad
- 10 Apa yang Harus Dilakukan Selanjutnya?
- 11 Sources
Tottenham Hotspur mencatatkan rekor terburuk dalam 52 tahun terakhir setelah gagal mencetak satu pun gol di empat pertandingan pembuka musim Premier League 2026-27, dengan imbang 0-0 melawan Everton di Tottenham Hotspur Stadium pada 12 September 2026 memperpanjang puasa gol mereka hingga 407 menit. Krisis ini diperparah oleh gagalnya transfer Richarlison ke Vasco da Gama serta pengakuan pelatih Roberto De Zerbi bahwa timnya “memulai musim terlalu terlambat.”
Situasi di White Hart Lane — atau lebih tepatnya Tottenham Hotspur Stadium — saat ini menggambarkan titik terendah yang mengkhawatirkan bagi klub yang menghabiskan ratusan juta poundsterling di bursa transfer musim panas namun tak mampu menembus gawang lawan bahkan sekali pun di liga domestik. Bukan sekadar kekalahan yang menjadi masalah, melainkan ketidakmampuan total untuk menghasilkan gol — sebuah krisis identitas di lini depan yang belum pernah terjadi sejak musim 1974-75.
Imbang Tanpa Gol Lawan Everton Perpanjang Rekor Memalukan
Pertandingan melawan Everton pada Sabtu, 12 September 2026 menjadi puncak frustrasi pendukung Spurs. Di hadapan puluhan ribu penonton yang semakin gelisah, Tottenham kembali gagal menembus pertahanan lawan meski bermain di kandang sendiri. Menurut laporan BBC Sport, Spurs tidak mampu menciptakan peluang-peluang bermakna sepanjang 90 menit, dan suasana di stadion semakin tegang seiring berjalannya waktu.
Hasil imbang 0-0 ini membuat Tottenham mengumpulkan hanya dua poin dari empat pertandingan awal musim — menempatkan mereka di posisi ke-17 klasemen sementara Premier League dengan catatan nol kemenangan, dua imbang, dan dua kekalahan. Selisih gol mereka minus lima, dengan nol gol dicetak dan lima gol kebobolan.
Menurut data yang dilaporkan Chosun English, puasa gol Tottenham kini telah mencapai 407 menit di liga — sebuah rekor negatif yang belum pernah terjadi dalam sejarah empat divisi teratas sepak bola Inggris. Tak ada tim yang pernah gagal mencetak gol di empat pertandingan pembuka berturut-turut dalam sejarah sistem liga Inggris.
Empat Laga Tanpa Gol: Kronologi Awal Musim yang Suram
Perjalanan Tottenham di musim 2026-27 dimulai dengan bencana. Berikut kronologi empat pertandingan pembuka mereka di Premier League:
| Tanggal | Pertandingan | Skor | Lokasi |
|---|---|---|---|
| 12 September 2026 | Tottenham vs Everton | 0-0 | Tottenham Hotspur Stadium |
| 5 September 2026 | Nottingham Forest vs Tottenham | 0-0 | City Ground |
| Pekan 2 | Tottenham vs Newcastle United | 0-2 | Tottenham Hotspur Stadium |
| Pekan 1 | Brentford vs Tottenham | 3-0 | Gtech Community Stadium |
Dari empat laga tersebut, Tottenham tidak pernah menembak ke gawang secara efektif. Lini serang yang ditaksir bernilai ratusan juta poundsterling — termasuk rekrutan baru seperti Omar Marmoush, Savio, dan Dominic Solanke — sama sekali gagal menemukan jalan ke gawang. Di pertandingan melawan Nottingham Forest pada 5 September, Spurs bahkan tidak mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran.
De Zerbi Akui Tim “Memulai Terlalu Terlambat”
Roberto De Zerbi, yang ditunjuk sebagai penerus Ange Postecoglou untuk memimpin era baru Tottenham, memberikan penjelasan blak-blakan tentang penyebab krisis ini. Dalam konferensi pers pada 12 September 2026, pelatih asal Italia itu menyatakan bahwa timnya belum siap secara fisik.
“Kami memulai musim ini terlalu terlambat,” kata De Zerbi, seperti dilaporkan CBS Sports. “Saya pikir kami belum memiliki kondisi fisik yang tepat.”
De Zerbi menjelaskan bahwa keterlambatan ini disebabkan oleh kedatangan pemain-pemain baru yang baru bergabung menjelang akhir bursa transfer. “Kami baru mulai bekerja bersama dengan Marmoush, Savio, Solanke. Kami bermain dengan baik di 30 menit pertama, tapi kemudian kami tidak bisa membuka kunci pertahanan lawan,” tambahnya.
Sebelumnya, setelah imbang melawan Nottingham Forest pada 5 September, De Zerbi sudah menyuarakan kekhawatiran serupa. “Saya pikir kami bermain dengan baik, tapi di sepertiga lapangan terakhir kami harus meningkatkan kualitas. Kami harus mengambil keputusan yang lebih baik. Kami harus lebih tenang ketika kami sangat dekat untuk melakukan sesuatu yang penting di sepertiga lapangan terakhir,” ujarnya kepada Sky Sports.
De Zerbi juga sempat membela timnya dengan pernyataan yang menjadi viral: “Ini bukan Football Manager. Kamu tidak bisa membangun tim hanya dengan nama-nama besar.” Pernyataan ini muncul pada 6 September 2026 setelah tiga laga tanpa gol pertama yang sudah menyamai rekor 52 tahun lalu.
Rekor 52 Tahun yang Terpecahkan — dan Kemudian Diperburuk
Ketika Tottenham gagal mencetak gol di tiga pertandingan pertama musim ini, rekor tersebut sudah menyamai catatan buruk dari musim 1974-75. Pada era itu, Spurs yang dilatih Terry Neill juga mengalami start tanpa gol di tiga laga pembuka — namun pada laga keempat mereka berhasil mencetak gol.
Kini, dengan kegagalan mencetak gol di laga keempat melawan Everton, Tottenham telah melampaui rekor terburuk mereka sendiri. Puasa 407 menit tanpa gol ini juga merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah liga Inggris satu tim gagal mencetak gol di empat pertandingan pembuka berturut-turut, menurut laporan statistik yang dihimpun berbagai media.
Untuk konteks, musim lalu Tottenham mencetak 65 gol di Premier League di bawah Postecoglou — rata-rata hampir dua gol per pertandingan. Transisi ke sistem De Zerbi yang lebih mengutamakan penguasaan bola dan pembangunan serangan dari belakang ternyata belum membuahkan hasil di lini depan.

Saga Transfer Richarlison: Mimpi Vasco da Gama yang Kandas
Di tengah krisis hasil di lapangan, Tottenham juga harus menghadapi drama di luar lapangan terkait masa depan Richarlison. Penyerang asal Brasil berusia 29 tahun itu telah dikeluarkan dari skuad 25 pemain Premier League Tottenham untuk paruh pertama musim ini, dan transfer yang diharapkan ke Vasco da Gama pada akhirnya gagal terwujud.
Menurut laporan BBC Sport pada 11 September 2026, Tottenham dan Vasco da Gama sebenarnya telah mencapai kesepakatan soal biaya transfer. Namun, kesepakatan personal antara Richarlison dan Vasco tidak tercapai, sehingga transfer akhirnya batal.
Richarlison kemudian menyampaikan kekecewaan dan perasaannya melalui Instagram pada 12 September 2026. Dalam postingannya, ia menyatakan, “Saya sudah memutuskan untuk tidak pernah membiarkan orang lain menentukan masa depan saya.” Ia menambahkan bahwa bermain untuk Vasco adalah mimpinya — dan mimpi kakek serta keluarganya.
“Saya benar-benar ingin bermain untuk Vasco. Suatu hari nanti, saya akan mewujudkan mimpi ini,” tulis Richarlison. Sebelumnya, rekan setimnya di Tottenham, Savinho, mengungkapkan bahwa Richarlison telah bercerita kepadanya secara pribadi tentang keinginannya bergabung dengan Vasco. “Dia bilang kepada saya bahwa dia ingin pergi ke Vasco,” kata Savinho, seperti dilaporkan Caught Offside pada 9 September 2026.
ESPN melaporkan pada 11 September bahwa direktur sepak bola Vasco, Admar Lopes, menyatakan optimisme tentang negosiasi sebelum tenggat waktu transfer Brasil. “Saat ini, kami sedang dalam pembicaraan dengan Tottenham,” kata Lopes. Namun, jendela transfer Brasil ditutup pada 11 September dan kesepakatan tidak tercapai tepat waktu.
De Zerbi Soal Richarlison: “Bukan Keputusan Saya”
Roberto De Zerbi memberikan tanggapan yang hati-hati namun penuh makna tentang situasi Richarlison. Pada 3 September 2026, ketika ditanya tentang keputusan mengeluarkan Richarlison dari skuad Premier League, De Zerbi menjawab, “Itu bukan keputusan saya. Itu adalah keputusan yang normal,” seperti dilaporkan BBC Sport.
De Zerbi juga memberikan sedikit gambaran tentang hubungannya dengan pemain tersebut. “Richarlison adalah orang baik, orang yang sangat baik. Saya sudah berbicara dengannya berkali-kali dan saya menghabiskan waktu untuk meyakinkannya agar tetap tinggal, tapi jika kamu bertanya kepada saya, saya tahu kebenarannya,” ungkap pelatih berusia 47 tahun itu.
Dalam konferensi pers terpisah pada 12 September, De Zerbi kembali menolak memberikan kejelasan tentang masa depan Richarlison. “Saya tidak tahu [apakah Richarlison akan pergi]. Saya tidak tahu, itu bukan pekerjaan saya,” katanya kepada wartawan, seperti dilaporkan Standard.
Menurut BBC Sport, Richarlison dan Tottenham kini berada dalam perselisihan kontrak. Penyerang tersebut dilaporkan ingin kontraknya yang tersisa sembilan bulan diakhiri secara sepihak agar ia bisa pindah secara bebas, sementara Tottenham bersikeras menginginkan biaya transfer yang wajar.
Belanja Besar tapi Hasil Nihil: Paradoks Transfer Tottenham
Salah satu aspek paling mengejutkan dari krisis ini adalah fakta bahwa Tottenham telah menggelontorkan investasi besar di bursa transfer musim panas. Kedatangan Omar Marmoush, Savio, dan Dominic Solanke seharusnya memperkuat lini depan Spurs di bawah arahan taktis De Zerbi.
Namun De Zerbi sendiri mengakui bahwa integrasi pemain-pemain baru membutuhkan waktu. “Kami mendatangkan pemain-pemain yang benar-benar sangat bagus. Tapi kamu tidak bisa membangun tim di FM [Football Manager] hanya dengan nama-nama,” kata De Zerbi, merujuk pada permainan simulasi manajemen sepak bola populer, pada 6 September 2026.
Pelatih tersebut juga mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap staf medis klub. Menurut Sky Sports, De Zerbi menyatakan bahwa ia “tidak senang” dengan rekomendasi staf medisnya yang menyarankan agar Savio dan Destiny Udogie hanya dimainkan selama 60 menit di pertandingan melawan Nottingham Forest. De Zerbi merasa hal ini mengganggu momentum timnya.
Kritik De Zerbi terhadap staf medisnya sendiri dan lini depan tim memunculkan kekhawatiran di kalangan pengamat. Mantan pemain Arsenal dan komentator sepak bola Paul Merson menyebut situasi ini “mengkhawatirkan” dan mempertanyakan apakah De Zerbi mampu membalikkan keadaan.
Perbandingan dengan Era De Zerbi di Brighton
Penunjukan De Zerbi di Tottenham disambut antusiasme besar karena rekam jejaknya yang mengesankan di Brighton & Hove Albion. Di musim 2022-23, ia membawa Brighton finis di peringkat keenam Premier League — posisi tertinggi dalam sejarah klub — dengan gaya bermain menyerang yang memikat. Setelah itu, ia pindah ke Olympique de Marseille sebelum akhirnya berlabuh di Tottenham.
Namun transisi dari Brighton dan Marseille ke Tottenham ternyata tidak semulus yang diharapkan. Di Brighton, De Zerbi memiliki waktu untuk membangun sistemnya secara bertahap dengan pemain-pemain yang sebagian besar sudah ada di klub. Di Tottenham, ia harus menggabungkan skuad yang sebagian besar baru dalam waktu singkat — sebuah tantangan yang jelas berbeda.
“Ini bukan momen yang sulit,” kata De Zerbi dalam pernyataan yang kontroversial pada 12 September. “Momen sulit adalah musim lalu di Sunderland. Sekarang bukan momen normal, tapi ini adalah salah satu momen dalam sepak bola ketika kamu membangun ulang tim.” Pernyataan “realistis, bukan positif, bukan negatif” ini dilaporkan NBC Sports. Di laga Chelsea vs Brighton 4-3 pekan lalu, misalnya, kita melihat betapa kompetitifnya Premier League musim ini — dan betapa sulitnya bagi tim mana pun untuk menemukan konsistensi.
Dampak kepergian Son Heung-min dan Perubahan Skuad
Faktor lain yang berkontribusi pada krisis Tottenham adalah perubahan besar dalam komposisi skuad. Kepergian Son Heung-min — yang selama bertahun-tahun menjadi pencetak gol andalan dan kapten tim — meninggalkan lubang besar yang belum terisi. Media Korea Selatan secara khusus menyoroti hubungan antara kepergian Son dan keterpurukan Tottenham, dengan Starnews Korea menulis bahwa “dengan Son pergi, semakin tidak ada jalan keluar” bagi Spurs.
Selain kehilangan Son, Tottenham juga harus mengelola situasi kontrak beberapa pemain kunci. Di sisi positif, Lucas Bergvall baru saja menandatangani kontrak baru dengan klub pada 11 September 2026, setelah masa depannya sempat tidak pasti, menurut BBC Sport. Ini menjadi sedikit kabar baik di tengah badai.
Trabzonspor juga sempat dikabarkan tertarik mendatangkan Richarlison sebelum jendela transfer Turki ditutup, menurut The Guardian pada 2 September 2026. Namun opsi ini juga tidak terwujud, menambah kerumitan situasi yang sudah pelik.
Apa yang Harus Dilakukan Selanjutnya?
Tottenham akan menghadapi ujian berat berikutnya melawan Liverpool di Piala Liga pada 15 September 2026 di Anfield — sebuah pertandingan yang bisa semakin memperburuk atau justru menjadi momen kebangkitan bagi tim De Zerbi. Kekalahan lagi di sana bisa meningkatkan tekanan pada pelatih Italia tersebut secara signifikan.
De Zerbi sendiri meminta kesabaran dari para pendukung dan pihak manajemen. “Saya realistis, bukan positif, bukan negatif,” katanya. Namun realita di lapangan menunjukkan bahwa waktu mungkin tidak berpihak padanya jika Spurs terus gagal mencetak gol di laga-laga mendatang.
Soal Richarlison, situasinya tetap menggantung. Dengan jendela transfer Brasil dan Turki sudah ditutup, penyerang tersebut kemungkinan besar akan bertahan di Tottenham setidaknya hingga Januari 2027 — meski ia tidak terdaftar dalam skuad Premier League. Standard Sport melaporkan bahwa Richarlison diperkirakan tetap di klub sampai jendela transfer berikutnya.
Bagi para penggemar Tottenham di Indonesia — yang jumlahnya tidak sedikit mengingat popularitas Premier League di tanah air — awal musim ini tentu sangat mengecewakan. Namun jika ada pelajaran dari sejarah sepak bola, ini adalah bahwa awal yang buruk tidak selalu berarti akhir yang buruk. Yang menjadi pertanyaan besar adalah: apakah De Zerbi akan diberikan cukup waktu untuk membuktikan filosofinya, atau akankah Tottenham mengulangi pola kebiasaan mereka mengganti pelatih sebelum visi jangka panjang sempat terwujud?
Di pasar prediksi, para pelaku pasar di Polymarket memberikan probabilitas implisit hanya 0,2% bagi Tottenham untuk memenangkan gelar Premier League 2026-27 — sebuah angka yang mencerminkan betapa jauhnya Spurs dari persaingan papan atas saat ini (per 13 September 2026 pukul 19:13 UTC; peluang pasar prediksi bergerak terus-menerus). Meskipun gelar juara memang bukan target realistis musim ini, angka tersebut menjadi pengingat tajam betapa rendahnya ekspektasi pasar terhadap tim yang seharusnya bersaing di papan atas.
Sources
- BBC Sport — bbc.co.uk
- Chosun English — chosun.com
- CBS Sports — cbssports.com
- Tottenham Hotspur Cetak Rekor Buruk, Empat Laga Tanpa … — detik.com
- Tottenham Hotspur Tak Kunjung Cetak Gol di Premier League — detik.com
Photo via Wikimedia Commons (CC0)



