Liverpool Ditahan Imbang Fulham 0-0 di Anfield, Iraola Akui Tim Kelelahan

Ditinjau oleh Eko Nugroho
Ringkasan

Liverpool ditahan imbang 0-0 oleh Fulham di Anfield pada pekan keempat Premier League 2026-27. Manajer Andoni Iraola akui kelelahan dan kurangnya kreativitas ofensif.

10 menit baca

Liverpool gagal meraih kemenangan kandang perdana di Premier League musim 2026-27 setelah ditahan imbang 0-0 oleh Fulham di Anfield pada Sabtu, 12 September 2026. Hasil ini memperpanjang penantian manajer Andoni Iraola untuk meraih tiga poin di depan pendukung sendiri, sekaligus menyisakan Liverpool di peringkat keenam klasemen dengan enam poin dari empat pertandingan.

Fulham, yang sebelumnya belum meraih satu poin pun dari tiga laga pembuka musim ini, berhasil membungkam serangan Liverpool yang diisi nama-nama besar seperti Alexander Isak, Florian Wirtz, dan rekrutan termahal musim panas Bradley Barcola. Pertandingan pekan keempat ini menjadi cerminan betapa beratnya adaptasi skuad mahal Liverpool di bawah komando pelatih barunya dari Spanyol.

Iraola: “Kami Tidak Bisa Menyembunyikan Kelelahan”

Andoni Iraola, yang ditunjuk sebagai manajer Liverpool pada 4 Juni 2026 menggantikan Arne Slot, tidak menutupi kekecewaan pasca-pertandingan. Dalam konferensi pers, mantan pelatih Bournemouth itu mengakui secara terbuka bahwa timnya kesulitan menciptakan peluang.

“Saat bermain imbang, apalagi di kandang, kamu tidak bisa senang. Kami kurang segar, dan kami tidak cukup baik secara ofensif untuk membuat perbedaan,” ujar Iraola kepada BBC Match of the Day.

Iraola juga menyinggung jadwal padat yang membebani para pemainnya. “Yang paling mudah untuk saya jelaskan — pemain kami kelelahan. Ada kekurangan kesegaran, itu pasti. Kami tidak bisa menyembunyikannya,” katanya, seperti dilaporkan Reuters.

“Saya rasa ini adalah jeda terburuk, sekitar 60-an jam antara dua pertandingan, setelah laga besar beberapa hari lalu. Kami harus beradaptasi. Tim-tim lain punya masalah yang sama, dan mereka bisa mengatasinya,” tambahnya.

Terkait performa ofensif, Iraola memberikan penilaian blak-blakan: “Saya pikir ini pertandingan pertama sejak saya di sini di mana kami benar-benar bermasalah untuk menciptakan peluang, mencetak gol, dan membuat perbedaan secara ofensif.”

Statistik Pertandingan: Dominasi Tanpa Hasil

Liverpool mendominasi penguasaan bola dengan 56,1% melawan 43,9% milik Fulham, namun angka-angka tersebut tidak tercermin di papan skor. Data dari ESPN dan The Athletic menunjukkan gambaran pertandingan yang mengecewakan bagi tuan rumah.

StatistikLiverpoolFulham
Penguasaan Bola56,1%43,9%
Tembakan1410
Tembakan Tepat Sasaran34
Expected Goals (xG)1,130,71
Peluang Besar Diciptakan41
Sepak Pojok58
Pelanggaran118
Operan Akurat413 (83%)303 (77%)
Duel Dimenangkan3934
Penyelamatan33

Meskipun Liverpool melepaskan 14 tembakan, hanya tiga di antaranya mengarah ke gawang — angka yang sangat rendah untuk tim dengan investasi pemain senilai ratusan juta euro. Sebaliknya, Fulham justru lebih efisien dengan empat tembakan tepat sasaran dari sepuluh percobaan, meski nilai xG mereka lebih rendah di 0,71.

Data sentuhan di kotak penalti lawan juga menarik: Fulham mencatat 24 sentuhan di kotak penalti Liverpool, lebih banyak dibanding 18 sentuhan Liverpool di kotak penalti Fulham, menurut Bleacher Report. Angka ini menunjukkan bahwa tamu justru lebih mengancam di area-area krusial.

Susunan Pemain dan Taktik Iraola

Iraola menurunkan susunan pemain yang mencerminkan kekuatan penuh skuad barunya. Liverpool bermain dengan formasi yang menempatkan Alexander Isak sebagai ujung tombak, didukung oleh Florian Wirtz, Bradley Barcola, dan Victor Muñoz di lini serang. Ryan Gravenberch dan Dominik Szoboszlai mengisi lini tengah, sementara kapten Virgil van Dijk memimpin barisan pertahanan bersama Ronald Araújo (pinjaman), Jeremy Jacquet, dan Kostas Tsimikas. Alisson Becker menjaga gawang.

Fulham merespons dengan pertahanan disiplin. Bernd Leno berdiri teguh di gawang, dilindungi oleh Timothy Castagne, Lukas Affengruber, Calvin Bassey, dan Antonee Robinson. Sander Berge dan Joshua Charles mengendalikan lini tengah, sementara Oscar Bobb, Joshua King, Alex Iwobi, dan Gerson García mengisi lini depan.

Iraola melakukan beberapa pergantian di babak kedua untuk mencari gol: Mykhailo Kerkez menggantikan Tsimikas saat turun minum, dilanjutkan Cody Gakpo dan Alexis Mac Allister masuk di menit ke-60, lalu Rio Ngumoha dan Jeremie Frimpong di menit ke-72. Namun tidak ada satupun pergantian yang mampu memecah kebuntuan.

Soal Bradley Barcola, yang baru bergabung dari PSG dengan biaya transfer £123 juta pada akhir Agustus 2026, Iraola menjelaskan rencana bertahap. “Bradley adalah pemain yang sedang kami bangun secara fisik melalui pertandingan. Pertandingan-pertandingan inilah yang akan memberinya kondisi yang kami inginkan,” ujar Iraola. “Tapi ini bukan hanya soal Bradley — kami memang kurang segar secara keseluruhan.”

Investasi Besar Liverpool yang Belum Berbuah

Hasil imbang tanpa gol ini semakin menyoroti pertanyaan besar seputar investasi masif Liverpool dalam dua musim panas terakhir. Seperti dilaporkan oleh BBC, petinggi Liverpool menyatakan bahwa jendela transfer musim panas 2025 merupakan yang terbesar dalam sejarah klub — memecahkan rekor transfer Inggris dua kali dengan mendatangkan Florian Wirtz dan Alexander Isak, dengan total belanja mencapai £415 juta di bawah era Arne Slot.

Namun investasi raksasa tersebut tidak menghasilkan hasil yang diharapkan di musim 2025-26. Liverpool, yang baru saja meraih gelar Premier League di musim perdana Slot, justru merosot ke peringkat kelima. Kegagalan mempertahankan gelar inilah yang berujung pada pemecatan Slot pada 30 Mei 2026, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters dan The Guardian.

Kepergian Mohamed Salah menambah kerumitan. Legenda Liverpool itu meninggalkan Anfield menuju Trabzonspor, meninggalkan kekosongan di sayap kanan yang coba diisi oleh rekrutan-rekrutan baru. Musim panas 2026, Liverpool kembali mengeluarkan dana besar — kali ini untuk Bradley Barcola dari PSG senilai £123 juta ($166 juta), yang menurut Fox Sports merupakan transfer termahal di jendela musim panas 2026 secara global.

Total investasi Liverpool dalam dua musim panas sudah mendekati angka €700 juta, menjadikan skuad ini salah satu yang termahal dalam sejarah sepak bola. Namun empat pekan pertama musim 2026-27 belum menunjukkan bahwa uang tersebut telah dibelanjakan dengan bijak.

Suasana penuh sesak di Anfield saat pertandingan Premier League

Era Iraola: Dari Bournemouth ke Anfield

Penunjukan Andoni Iraola sebagai manajer Liverpool pada 4 Juni 2026 menjadi salah satu momen paling mengejutkan di musim panas sepak bola Eropa. Pelatih berusia 43 tahun asal Spanyol itu menandatangani kontrak dua tahun, menggantikan Arne Slot yang dipecat setelah gagal mempertahankan gelar juara.

Iraola membangun reputasinya di Bournemouth, di mana ia berhasil menjaga klub kecil tetap kompetitif di Premier League dengan anggaran yang jauh lebih kecil dibandingkan rival-rival papan atas. Filosofi permainannya yang menekankan pressing tinggi, kerja keras kolektif, dan intensitas tanpa bola menarik perhatian Richard Hughes, direktur olahraga Liverpool.

Dalam wawancara pra-musim pada Agustus 2026, Iraola menegaskan visinya untuk Liverpool. “Kami harus menjadi tim yang bekerja keras, intens, agresif, dan vertikal — sehingga semua orang bisa mengidentifikasi diri dengan tim, semua orang bisa merasa nyaman mendukung tim ini,” katanya kepada Reuters.

Namun setelah empat pertandingan, visi tersebut belum sepenuhnya terwujud. Liverpool memang masih tidak terkalahkan — satu kemenangan dan tiga hasil imbang — tetapi hanya mengumpulkan enam poin, tertinggal tiga poin dari Manchester City dan Arsenal yang memimpin klasemen dengan catatan sempurna sembilan poin. Iraola juga belum berhasil meraih kemenangan di Anfield, sebuah fakta yang pasti mengkhawatirkan basis penggemar Liverpool, termasuk jutaan pendukung setianya di Indonesia, seperti yang dibahas dalam liputan pertandingan Liga Champions Liverpool sebelumnya.

Fulham Raih Poin Pertama Musim Ini

Di sisi lain, hasil imbang ini justru terasa seperti kemenangan bagi Fulham. Tim asuhan — yang dipimpin oleh manajer pengganti setelah pergantian di awal musim — akhirnya meraih poin pertama mereka di musim 2026-27 setelah tiga kekalahan beruntun di tiga pekan pembuka.

Fulham kini mengumpulkan satu poin dari empat pertandingan dan berada di peringkat ke-18 klasemen dengan selisih gol -3. Meski masih berada di zona degradasi, clean sheet di kandang salah satu favorit juara merupakan pencapaian signifikan yang bisa membangun kepercayaan diri menjelang pertandingan-pertandingan berikutnya.

Pertahanan Fulham layak mendapat pujian khusus. Calvin Bassey dan Timothy Castagne tampil solid di jantung pertahanan, sementara Antonee Robinson mengancam dari sisi kiri — salah satu momen terbaiknya adalah sundulan yang nyaris menjebol gawang Alisson di babak pertama. Bernd Leno juga tampil tenang di gawang, mencatat tiga penyelamatan penting.

Klasemen Premier League Setelah Pekan Keempat

Hasil imbang di Anfield ini semakin memperjelas gambaran klasemen awal musim 2026-27. Berdasarkan data dari ESPN dan berbagai sumber, berikut posisi beberapa tim kunci setelah pekan keempat:

Manchester City memimpin klasemen dengan sembilan poin sempurna dari tiga pertandingan, diikuti Arsenal yang juga mengumpulkan sembilan poin dengan catatan serupa. Hull City, salah satu kejutan awal musim, berada di peringkat ketiga berkat dua kemenangan dan satu hasil imbang. Chelsea menempati posisi keempat, sementara Brentford di peringkat kelima.

Liverpool tertahan di peringkat keenam dengan enam poin — terpaut tiga poin dari dua teratas. Arsenal sendiri baru saja menang 2-0 atas Sunderland pada hari yang sama, dengan performa impresif yang menjadikan mereka salah satu penantang terkuat musim ini. Di dasar klasemen, Tottenham Hotspur terus terpuruk tanpa kemenangan dan tanpa gol dalam empat pertandingan beruntun.

Analisis: Mengapa Liverpool Mandul di Anfield?

Pertanyaan terbesar yang menghantui Liverpool pasca-imbang ini adalah: mengapa lini serang seharga ratusan juta euro gagal mencetak satu gol pun melawan tim yang baru meraih poin pertama musim ini?

Ada beberapa faktor yang bisa diidentifikasi. Pertama, seperti diakui Iraola sendiri, kelelahan menjadi masalah utama. Liverpool hanya memiliki jeda sekitar 60 jam antara laga Liga Champions dan pertandingan melawan Fulham — salah satu jeda terpendek di antara semua tim Premier League di pekan ini.

Kedua, adaptasi taktis masih menjadi pekerjaan rumah. Skuad Liverpool saat ini didominasi pemain yang direkrut di bawah filosofi berbeda — Arne Slot membangun tim untuk permainan berbasis penguasaan bola, sementara Iraola lebih menekankan pressing dan permainan langsung. Transisi ini membutuhkan waktu, dan empat pekan jelas belum cukup.

Ketiga, Bradley Barcola — yang dibeli dengan harga fantastis £123 juta — masih dalam proses pembangunan fisik. Iraola secara terbuka mengakui bahwa winger Prancis itu belum dalam kondisi optimal dan bahwa ia membutuhkan menit-menit pertandingan untuk membangun kebugarannya. Barcola bermain dari awal namun tampak belum menemukan ritme permainannya, sebelum digantikan oleh Rio Ngumoha di menit ke-72.

Keempat, ketiadaan Mo Salah terasa sangat nyata. Selama bertahun-tahun, Salah menjadi andalan Liverpool untuk memecah kebuntuan — kemampuannya menemukan ruang dan menyelesaikan peluang setengah jadi nyaris tak tergantikan. Tanpa sosok seperti itu, Liverpool tampak kehilangan kreativitas individual yang bisa mengubah hasil imbang menjadi kemenangan.

Dampak bagi Penggemar di Indonesia

Indonesia memiliki salah satu basis penggemar Liverpool terbesar di dunia. Jutaan pendukung setia The Reds di tanah air mengikuti setiap pertandingan dengan penuh antusiasme, dan hasil mengecewakan seperti ini tentu menimbulkan kegelisahan. Musim lalu, Liverpool sudah mengecewakan dengan merosot ke peringkat kelima setelah meraih gelar juara — dan awal musim baru ini belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Bagi penggemar Indonesia yang terbiasa menonton pertandingan di jam-jam malam atau dini hari, performa Liverpool di Anfield menjadi sangat penting karena laga kandang biasanya menawarkan hiburan dan hasil yang lebih positif. Kegagalan meraih kemenangan di kandang dalam empat pekan pertama tentu bukan pertanda yang menggembirakan.

Pertanyaan yang beredar di berbagai forum penggemar Liverpool di Indonesia adalah apakah Iraola mampu memaksimalkan investasi besar klub. Nama-nama seperti Isak, Wirtz, dan Barcola seharusnya membuat Liverpool menjadi mesin gol — namun kenyataannya, mereka justru terlihat seperti kumpulan individu yang belum menemukan permainan kolektif. Sebagaimana dibahas dalam artikel tentang bagaimana pelatih top memaksimalkan pemain bintang, transisi manajerial di klub besar selalu membutuhkan waktu dan kesabaran.

Yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya

Liverpool akan menghadapi serangkaian pertandingan krusial dalam beberapa pekan ke depan yang bisa menentukan arah musim mereka. Iraola membutuhkan kemenangan kandang pertamanya untuk meredakan tekanan dan membuktikan bahwa proyek jangka panjangnya di Anfield berjalan sesuai rencana.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Kebugaran Barcola: Iraola mengisyaratkan bahwa winger Prancis itu akan terus mendapat menit bermain untuk membangun kondisi fisiknya. Performa Barcola dalam tiga hingga empat pekan ke depan akan menjadi indikator penting.
  • Kimia tim: Dengan begitu banyak pemain baru — Barcola, Araújo (pinjaman), Jacquet, dan adaptasi ke sistem baru — Liverpool membutuhkan waktu untuk mengembangkan saling pengertian di lapangan.
  • Catatan kandang: Nol kemenangan di Anfield setelah empat pekan adalah statistik mengkhawatirkan. Anfield selalu menjadi benteng — jika hal ini terus berlanjut, tekanan pada Iraola akan semakin besar.
  • Jarak dengan puncak: Tiga poin tertinggal dari Manchester City dan Arsenal masih bisa dikejar, tetapi jika Liverpool terus menjatuhkan poin, ketertinggalan tersebut bisa membesar dengan cepat.

Iraola sendiri tetap optimis meski mengakui masalah. “Kami baru bermain tiga pertandingan liga, dan membuat kesimpulan besar tentang tim manapun terlalu dini,” ujarnya sebelum pertandingan, seperti dilaporkan ESPN. Kata-kata tersebut sekarang terasa lebih relevan dari sebelumnya — baik sebagai perisai dari kritik maupun sebagai pengingat bahwa musim masih sangat panjang.

Bagi para penggemar Liverpool di Indonesia dan seluruh dunia, pesan yang bisa diambil dari imbang tanpa gol ini cukup jelas: kesabaran diperlukan, tetapi kesabaran itu tidak akan bertahan selamanya. Iraola tahu bahwa dengan harga yang telah dibayar untuk merakit skuad ini, hasil harus segera mengikuti — dimulai dari laga berikutnya.

Sources

Photo: AFC Bournemouth, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons

Bagikan rasa suka Anda
Rizky Pratama, LifeBogger author

Rizky Pratama

Halo! Saya Rizky Pratama, penggemar sepak bola dan penulis LifeBogger untuk pembaca Indonesia. Saya menulis tentang masa kecil dan biografi para pesepak bola — menelusuri asal-usul, keluarga, dan tahun-tahun awal mereka jauh sebelum sorotan kamera datang. Bagi saya, cerita yang paling menarik selalu dimulai dari lapangan kampung, bukan dari stadion megah.

Artikel: 60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *