Kisah masa kecil yang belum terungkap dan biografi para bintang sepak bola

Herdman Bela Skuad Diaspora Usai Indonesia Kalahkan Singapura 2-0
Ringkasan
John Herdman membela sebelas pemain diaspora starter usai Indonesia kalahkan Singapura 2-0 di laga pembuka FIFA ASEAN Cup 2026, 25 September 2026 di SUGBK.
Daftar Isi
- 1 Susunan Pemain: Sebelas Nama, Satu Debutan
- 2 Jalannya Pertandingan: Oratmangoen Buka Keunggulan, Kartu Merah Ubah Peta Laga
- 3 Statistik dan Rangkaian Kejadian Kunci
- 4 Konteks Lebih Besar: FIFA ASEAN Cup sebagai Panggung Pembuktian PSSI
- 5 Perdebatan Diaspora: Bukan Isu Baru bagi Timnas Indonesia
- 6 Agenda Berikutnya: Laga Krusial Melawan Malaysia
- 7 Poin-Poin Penting
- 8 Artikel Terkait
- 9 Sources
Pelatih Timnas Indonesia John Herdman membela keputusannya menurunkan sebelas pemain diaspora sebagai starter dalam kemenangan 2-0 atas Singapura pada laga pembuka Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Jumat, 25 September 2026. Gol Ragnar Oratmangoen di menit ke-13 dan penalti Ole Romeny di menit ke-74 memastikan tiga poin pertama Garuda di ajang yang mereka gelar sendiri sebagai tuan rumah.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Herdman ditanya soal keputusannya menurunkan sebelas pemain berdarah campuran atau kelahiran luar negeri sebagai starting XI melawan Singapura. Pelatih asal Inggris itu menegaskan bahwa status kewarganegaraan para pemain tersebut tidak bisa dipertanyakan selama mereka menunjukkan komitmen penuh di lapangan.
“Kesempatan yang sama tetap ada untuk semua pemain. Ini adalah susunan pemain yang ingin mewakili negara ini,” kata Herdman, dikutip dari detikSport.
Herdman melanjutkan bahwa yang menjadi tolok ukur baginya bukan tempat lahir pemain, melainkan sejauh mana mereka bersedia berjuang di atas lapangan untuk publik Indonesia.
“Mereka yang bersedia melakukan perjalanan jauh, bekerja keras, memenangkan duel 50-50, serta bermain dengan semangat dan hati untuk para suporter di sini,” ujarnya.
Ia menutup jawabannya dengan pernyataan tegas soal identitas para pemain yang kerap menjadi bahan perdebatan di media sosial dan warung kopi penggemar sepak bola Tanah Air.
“Mereka sekarang adalah orang Indonesia. Mereka senang bermain untuk kalian. Ketika mereka mulai menghindari duel, ketika mereka berhenti berlari dalam pertandingan, barulah pertanyaan seperti itu bisa diajukan,” tegas Herdman.
Susunan Pemain: Sebelas Nama, Satu Debutan
Herdman menurunkan susunan pemain yang didominasi wajah-wajah kelahiran luar negeri atau berdarah campuran Indonesia melawan Singapura. Starting XI yang diturunkan adalah: Maarten Paes (kiper), Kevin Diks, Luke Vickery, Mitchell Baker, Elkan Baggott, Justin Hubner, Joey Pelupessy, Calvin Verdonk, Dean James, Ragnar Oratmangoen, dan Ole Romeny, menurut catatan detikSport.
Nama yang paling disorot adalah Luke Vickery, yang tampil sejak menit pertama sebagai starter dalam debutnya bersama Timnas Indonesia. Vickery mengisi lini pertahanan bersama Baggott dan Hubner, formasi belakang yang sepenuhnya diisi pemain kelahiran atau besar di luar Indonesia.
Kebijakan naturalisasi dan pelacakan pemain diaspora memang menjadi program jangka panjang PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir, yang telah membawa sejumlah pemain keturunan dari Belanda dan negara Eropa lain untuk memperkuat Garuda dalam beberapa tahun terakhir.
Jalannya Pertandingan: Oratmangoen Buka Keunggulan, Kartu Merah Ubah Peta Laga
Indonesia tampil menekan sejak menit awal di depan pendukung sendiri. Ragnar Oratmangoen membuka keunggulan Garuda pada menit ke-13, memecah kebuntuan lebih cepat dari yang diperkirakan banyak pihak menjelang laga ini.
Skor 1-0 bertahan hingga babak kedua berjalan, sebelum titik balik laga terjadi pada menit ke-70. Bek Singapura, Muhammad Safuwan Baharudin, menerima kartu merah langsung setelah wasit—dengan bantuan tinjauan Video Assistant Referee (VAR)—menilai pelanggarannya menggagalkan peluang emas Indonesia untuk mencetak gol (denial of a goal-scoring opportunity).
Dari tendangan bebas hasil pelanggaran tersebut, sepakan Thom Haye membentur tangan pemain Singapura, Song Ui-Young, di dalam kotak penalti. Wasit langsung menunjuk titik putih. Ole Romeny yang maju sebagai algojo tidak membuang kesempatan, menaklukkan kiper Singapura dengan sepakan ke sudut kanan bawah gawang pada menit ke-74 untuk mengubah kedudukan menjadi 2-0.
Unggul dua gol dan lawan bermain dengan sepuluh orang, Indonesia sempat memiliki beberapa peluang tambahan untuk memperbesar keunggulan pada sisa waktu pertandingan, namun skor 2-0 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan wasit.
Statistik dan Rangkaian Kejadian Kunci
| Menit | Kejadian |
|---|---|
| 13′ | Gol Ragnar Oratmangoen — Indonesia unggul 1-0 |
| 70′ | Kartu merah Muhammad Safuwan Baharudin (Singapura) usai tinjauan VAR |
| 74′ | Penalti dieksekusi Ole Romeny — Indonesia unggul 2-0 |
| 90’+ | Pertandingan berakhir, Indonesia menang 2-0 |
Kemenangan ini menempatkan Indonesia di posisi kedua klasemen sementara Grup A dengan raihan 3 poin, tertinggal dari Malaysia yang juga mengoleksi 3 poin namun unggul selisih gol setelah menang telak 3-0 atas Bangladesh pada hari yang sama, menurut catatan detikSport.
Konteks Lebih Besar: FIFA ASEAN Cup sebagai Panggung Pembuktian PSSI
Laga ini bukan sekadar pertandingan pembuka biasa. FIFA ASEAN Cup 2026 merupakan turnamen regional pertama yang secara resmi membawa label FIFA, dan Indonesia dipercaya sebagai salah satu tuan rumah dengan Grup A dipusatkan seluruhnya di SUGBK, Jakarta, sementara Grup B yang diisi Thailand, Vietnam, Filipina, dan Pakistan digelar di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung.
Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafström, hadir langsung dalam upacara pembukaan turnamen dan menyampaikan apresiasinya atas kesiapan Indonesia menggelar ajang berlabel FIFA untuk kedua kalinya setelah sukses menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17.
“Saya pikir membawa turnamen regional ini dengan label FIFA tentu akan menjadi sesuatu yang sangat istimewa,” kata Grafström, seperti dilaporkan Antara News pada 25 September 2026.
Grafström menambahkan bahwa antusiasme publik dan kerja PSSI di bawah Erick Thohir menjadi alasan utama Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah.
“Saya pikir gairah terhadap sepak bola adalah salah satu alasannya. Selain itu, ada juga kerja luar biasa yang telah dilakukan Erick bersama PSSI dan pemerintah,” ujarnya.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir turut mengonfirmasi kehadiran Grafström dalam upacara pembukaan dan menyampaikan terima kasih atas kepercayaan FIFA kepada Indonesia sebagai tuan rumah turnamen berlabel resmi federasi sepak bola dunia itu.

Perdebatan Diaspora: Bukan Isu Baru bagi Timnas Indonesia
Pertanyaan yang dilontarkan kepada Herdman mencerminkan perdebatan publik yang sudah berlangsung sejak PSSI gencar melakukan naturalisasi dan pelacakan pemain diaspora dalam beberapa tahun terakhir. Skuad yang diturunkan melawan Singapura merupakan salah satu contoh paling ekstrem dari kebijakan ini, dengan seluruh sebelas starter berstatus pemain kelahiran luar negeri atau berdarah campuran Indonesia.
Nama-nama seperti Ragnar Oratmangoen dan Ole Romeny sendiri telah menjadi andalan lini serang Indonesia dalam beberapa laga terakhir, dengan performa konsisten yang membuat publik menaruh ekspektasi tinggi terhadap keduanya sepanjang turnamen. Pembahasan seputar kontribusi para pemain naturalisasi dan diaspora Indonesia di berbagai kompetisi turut menjadi sorotan dalam liputan sebelumnya, termasuk mengenai rutinitas pemain di kompetisi Eropa yang kerap dibandingkan dengan gaya bermain pemain lokal.
Herdman sendiri menegaskan bahwa kriteria yang ia pakai untuk memilih pemain semata-mata berdasarkan performa dan komitmen di lapangan, bukan asal-usul kelahiran. Pendekatan ini sejalan dengan tren global di mana banyak negara, termasuk sejumlah negara Asia Tenggara lain, turut memanfaatkan jalur kewarganegaraan untuk memperkuat timnas mereka menjelang turnamen besar seperti FIFA ASEAN Cup 2026 ini.
Agenda Berikutnya: Laga Krusial Melawan Malaysia
Kemenangan atas Singapura membuka peluang besar bagi Indonesia untuk melaju ke babak berikutnya, namun laga penentu di Grup A akan datang lebih cepat dari perkiraan. Indonesia dijadwalkan menghadapi Malaysia, yang juga meraih kemenangan meyakinkan 3-0 atas Bangladesh pada hari yang sama, dalam laga kedua Grup A pada 28 September 2026 di SUGBK.
Duel melawan Malaysia berpotensi menjadi partai penentu posisi puncak klasemen Grup A, mengingat kedua tim sama-sama mengoleksi poin penuh pada laga pembuka masing-masing. Herdman kemungkinan akan mempertahankan skema serupa mengingat hasil positif yang didapat timnya melawan Singapura, meski performa Malaysia yang menang telak 3-0 menjadi sinyal bahaya bagi lini pertahanan Indonesia.
Sebagai tuan rumah, Indonesia menanggung beban ekspektasi besar dari publik yang memadati SUGBK pada laga pembuka ini. Erick Thohir bahkan menyampaikan rencana kehadiran Presiden FIFA Gianni Infantino pada babak final turnamen, sebuah indikasi seberapa besar sorotan yang diberikan FIFA terhadap penyelenggaraan Divisi 1 FIFA ASEAN Cup 2026 di Indonesia.
Poin-Poin Penting
- Indonesia menang 2-0 atas Singapura di laga pembuka Grup A FIFA ASEAN Cup 2026, Jumat, 25 September 2026, di SUGBK.
- Gol dicetak oleh Ragnar Oratmangoen (13′) dan Ole Romeny lewat penalti (74′).
- Muhammad Safuwan Baharudin (Singapura) menerima kartu merah pada menit ke-70 usai tinjauan VAR.
- Herdman menurunkan sebelas pemain diaspora sebagai starter, termasuk debutan Luke Vickery.
- Indonesia berada di posisi kedua Grup A dengan 3 poin, di bawah Malaysia yang unggul selisih gol.
- Laga berikutnya Indonesia melawan Malaysia dijadwalkan 28 September 2026 di SUGBK.
Artikel Terkait
- Van Dijk Ingin Kalahkan Klopp, Xavi Sindir Gaya Jerman Jelang Laga Nations League
- Lima Pemain Mundur dari Skuad Timnas Inggris Jelang UEFA Nations League
- Eriksen Sepakat Berpisah dengan Wolfsburg Usai Kolaps Kedua di Lapangan
Sources
- detikSport — sport.detik.com
- detikSport — sport.detik.com
- detikSport — sport.detik.com
- Antara News — antaranews.com
- Pernyataan John Herdman Usai Kalahkan Singapura, Semuanya Orang Indonesia — voi.id
Photo: Hossein Zohrevand, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons



