Kisah masa kecil yang belum terungkap dan biografi para bintang sepak bola

Brentford Hajar Tottenham 3-0: De Zerbi Akui ‘Kami Belum Jadi Tim’ di Laga Pembuka Premier League
Ringkasan
Brentford menghajar Tottenham 3-0 di pekan pertama Premier League 2026-27. De Zerbi akui 'kami belum menjadi tim' setelah kekalahan memalukan ini.
Daftar Isi
- 1 De Zerbi: “Kami Belum Menjadi Sebuah Tim”
- 2 Jalannya Pertandingan: Brentford Mendominasi Sejak Menit Awal
- 3 Statistik yang Menampar: xG Brentford 3,96 vs Spurs 0,47
- 4 Investasi Besar, Hasil Mengecewakan: Ironi Musim Panas Tottenham
- 5 Profil Para Pencetak Gol Brentford
- 6 Konteks: Brentford, Si Pembunuh Raksasa Premier League
- 7 Dampak bagi Tottenham: Tantangan De Zerbi Semakin Berat
- 8 Reaksi Penggemar dan Media: “Same Old Spurs?”
- 9 Apa yang Harus Dilakukan De Zerbi Selanjutnya?
- 10 Pandangan ke Depan: Premier League 2026-27 Baru Saja Dimulai
- 11 Sources
Tottenham Hotspur mengawali musim Premier League 2026-27 dengan mimpi buruk setelah dihajar Brentford 3-0 di Gtech Community Stadium, London, pada 22 Agustus 2026. Gol dari Keane Lewis-Potter (menit 12), Vitaly Janelt (menit 33), dan Michael Kayode (menit 49) menenggelamkan tim asuhan Roberto De Zerbi yang menelan investasi transfer senilai lebih dari £300 juta sepanjang musim panas ini.
Kekalahan ini sontak memicu pertanyaan besar: apakah pengeluaran besar Spurs musim ini sudah benar-benar siap bersaing? De Zerbi sendiri, berbicara kepada Sky Sports seusai pertandingan, tidak mengelak dari kenyataan pahit tersebut.
De Zerbi: “Kami Belum Menjadi Sebuah Tim”
Pelatih asal Italia itu tampil jujur setelah pertandingan dengan mengakui bahwa skuad barunya belum berfungsi sebagai satu kesatuan yang kohesif. “Kami belum menjadi sebuah tim, untuk banyak alasan,” kata De Zerbi kepada para jurnalis, sebagaimana dikutip oleh The Guardian. “Sebelum kalian benar-benar menjadi sebuah tim, kalian tidak bisa mengatakan apa yang bisa kalian lakukan.”
De Zerbi juga mengungkap bahwa kondisi fisik para pemainnya belum optimal, dan hal itu sudah ia antisipasi sebelum pertandingan. “Kami menderita secara fisik, tetapi kami sudah tahu itu sebelum pertandingan. Kami tidak siap untuk memenangkan duel-duel. Kami membuat banyak kesalahan,” ungkapnya. Pelatih berusia 47 tahun itu bahkan menyampaikan permintaan maaf langsung: “Saya minta maaf atas kekalahan ini.”
Pernyataan De Zerbi itu muncul hanya beberapa hari setelah ia tampil percaya diri membela kebijakan transfer besar Tottenham. Sebelum laga, ia menegaskan, “Saya sudah terlalu sering mendengar soal uang Tottenham, uang Tottenham — tetapi saya mencintai sepak bola cukup lama dan saya tidak pernah melihat tim yang bersaing di level tertinggi tanpa mengeluarkan uang.” Kini, kekalahan memalukan itu membuktikan bahwa belanja besar saja tidak cukup.
Jalannya Pertandingan: Brentford Mendominasi Sejak Menit Awal
Brentford langsung mengambil kendali sejak peluit awal dibunyikan. Keane Lewis-Potter membuka keunggulan tuan rumah pada menit ke-12 dengan sepakan yang tidak bisa dijangkau kiper Spurs. Gtech Community Stadium langsung meledak dalam sorak-sorai kemenangan.
Tottenham mencoba bereaksi, tetapi pertahanan Brentford yang terorganisir dengan baik mampu meredam setiap ancaman. Vitaly Janelt kemudian menggandakan keunggulan pada menit ke-33 melalui gol yang menunjukkan ketidaksiapan lini belakang Spurs dalam mengantisipasi bola-bola mati — sebuah ironi mengingat Tottenham diperkirakan sudah memperkuat sektor tersebut selama musim panas.
Di babak kedua, Michael Kayode menutup perlawanan Tottenham dengan gol pada menit ke-49, menjadikan skor 3-0 tak lagi bisa dikejar. Spurs yang memiliki penguasaan bola lebih banyak (59% berbanding 41%) sama sekali tidak bisa mengkonversi dominasi tersebut menjadi peluang berbahaya.

Statistik yang Menampar: xG Brentford 3,96 vs Spurs 0,47
Angka-angka yang muncul seusai pertandingan semakin mempertegas betapa total dominasi Brentford. Menurut data ESPN, Brentford mengakhiri pertandingan dengan expected goals (xG) sebesar 3,96 — sementara Tottenham hanya mampu mengumpulkan 0,47 xG sepanjang 90 menit.
| Statistik | Brentford | Tottenham |
|---|---|---|
| Gol | 3 | 0 |
| Expected Goals (xG) | 3,96 | 0,47 |
| Tembakan | 26 | 9 |
| Tembakan ke Gawang | 8 | 4 |
| Penguasaan Bola | 41% | 59% |
Data ini menunjukkan bahwa meskipun Spurs menguasai bola lebih banyak, mereka nyaris tidak menciptakan ancaman nyata. Sebuah gambaran yang sangat memprihatinkan untuk tim yang baru saja menginvestasikan ratusan juta poundsterling untuk memperkuat skuad.
Investasi Besar, Hasil Mengecewakan: Ironi Musim Panas Tottenham
Kekalahan ini terasa semakin menyakitkan mengingat betapa agresifnya Tottenham di pasar transfer musim panas 2026. Spurs mendatangkan Savinho dari Manchester City seharga £85 juta dalam rekor transfer klub, menjadikan winger Brasil itu sebagai pembelian termahal dalam sejarah Tottenham. Selain itu, kapten baru Micky van de Ven juga diharapkan memimpin pertahanan yang lebih solid musim ini.
Namun, malam yang seharusnya menjadi bukti ambisi besar Spurs justru berubah menjadi bencana. Reuters menggambarkan kekalahan ini sebagai “familiar collapse” — keruntuhan yang sudah terlalu akrab bagi para pendukung Tottenham selama bertahun-tahun terakhir. Meskipun wajah manajemen telah berubah dengan kehadiran De Zerbi, pola permainan yang rentan di awal musim rupanya belum sepenuhnya hilang.
Spurs mengakhiri musim lalu tanpa trofi dan kini memulai musim baru dengan kekalahan memalukan. De Zerbi, yang sebelumnya membangun reputasi gemilang bersama Brighton & Hove Albion dan Olympique de Marseille berkat filosofi sepak bola menyerang nan atraktif, kini menghadapi ujian pertama yang berat: menyatukan pemain-pemain baru yang belum saling mengenal dalam waktu secepat mungkin.
Profil Para Pencetak Gol Brentford
Keane Lewis-Potter adalah winger Inggris berusia 24 tahun yang musim ini kembali menjadi andalan Thomas Frank. Gol pembuka di menit ke-12 menegaskan bahwa ia sudah dalam kondisi prima sejak awal musim. Lewis-Potter dikenal sebagai pemain yang cepat, teknikal, dan memiliki kemampuan melepaskan tembakan dari dalam maupun luar kotak penalti.
Vitaly Janelt, gelandang asal Jerman berusia 27 tahun, mencetak gol penting kedua di menit ke-33 untuk memastikan Brentford unggul dua gol sebelum jeda. Janelt dikenal sebagai mesin di lini tengah Brentford — kuat dalam duel fisik, cermat dalam membaca permainan, dan sering tampil di waktu-waktu krusial.
Michael Kayode, bek sayap Italia berusia 21 tahun yang dipinjam dari Fiorentina, menuntaskan pekerjaan di menit ke-49 babak kedua. Gol Kayode bukan hanya menutup kemenangan Brentford, tetapi juga menunjukkan bahwa ancaman mereka bisa datang dari berbagai sisi lapangan — bukan hanya dari striker murni.
Konteks: Brentford, Si Pembunuh Raksasa Premier League
Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang mengikuti Premier League, kemenangan Brentford atas Tottenham bukanlah kejutan pertama. Thomas Frank telah membangun Brentford menjadi salah satu tim yang paling tidak nyaman dihadapi di liga. Mereka dikenal dengan pendekatan data-driven yang revolusioner, intensitas fisik yang tinggi, dan set-piece yang berbahaya.
Sejak promosi ke Premier League pada 2021, Brentford konsisten menampilkan performa yang kompetitif meskipun dengan anggaran yang jauh lebih kecil dibandingkan klub-klub besar. Mereka telah mengalahkan Manchester United, Arsenal, Liverpool, dan Chelsea dalam berbagai kesempatan — dan kemenangan 3-0 atas Tottenham pada hari pertama musim 2026-27 ini membuktikan bahwa filosofi mereka terus berhasil.
Thomas Frank, pelatih Denmark yang sudah delapan tahun menangani Brentford, kembali menunjukkan bahwa kemampuan membangun tim yang kohesif dan berjiwa juang tinggi bisa mengalahkan tim manapun — bahkan di pekan pertama musim ketika tim-tim besar belum menemukan ritme mereka.
Dampak bagi Tottenham: Tantangan De Zerbi Semakin Berat
Bagi De Zerbi, kekalahan ini menjadi alarm keras bahwa pekerjaan membangun tim tidak bisa diselesaikan hanya dengan mendatangkan pemain-pemain bintang. Integrasi taktis, pemahaman antarpemain, dan kebugaran fisik yang optimal membutuhkan waktu — sesuatu yang ironisnya tidak dimiliki tim saat memasuki pekan pertama musim.
Analis Premier League di ESPN menunjukkan bahwa selisih xG sebesar 3,49 (3,96 vs 0,47) merupakan salah satu dominasi paling satu sisi yang pernah terjadi pada laga pembuka musim dalam beberapa tahun terakhir. Angka itu bukan hanya menunjukkan kekalahan, tetapi ketelakjuban total dalam hal peluang dan ancaman.
Sementara para analis dan penggemar Premier League terus memperbincangkan permulaan buruk Tottenham — termasuk kekalahan 2-0 Manchester United dari Hull City di hari yang sama — De Zerbi harus segera menemukan formula yang tepat. Jadwal Premier League tidak menunggu siapapun, dan pertandingan-pertandingan selanjutnya akan datang dengan cepat.
Perlu diingat juga bahwa musim ini Premier League kembali menghadirkan persaingan ketat di papan atas. Jamie Carragher juga sempat meragukan kemampuan Florian Wirtz bersinar bagi Liverpool — menandakan bahwa adaptasi pemain-pemain baru adalah tantangan nyata bagi semua tim besar di awal musim ini.
Reaksi Penggemar dan Media: “Same Old Spurs?”
The Telegraph memberi judul berita mereka dengan tajam: “Same Old Spurs Given Reality Check of Epic Proportions” — menggambarkan betapa kekalahan ini kembali mengingatkan publik pada pola lama Tottenham yang kerap gagal memanfaatkan potensi besar mereka.
Media sosial pun langsung dipenuhi reaksi dari para penggemar Tottenham di seluruh dunia, termasuk dari komunitas pecinta sepak bola Indonesia yang terkenal besar dan bersemangat. Hashtag terkait kekalahan Spurs langsung menjadi trending di berbagai platform, dengan banyak penggemar yang mempertanyakan apakah investasi musim panas ini sudah tepat sasaran.
Di sisi lain, berita ini juga menjadi peringatan penting bahwa di Premier League, tidak ada pertandingan yang bisa dianggap mudah — bahkan di hari pertama musim sekalipun. Brentford sekali lagi membuktikan bahwa dengan persiapan matang, semangat juang tinggi, dan permainan kolektif yang solid, tim manapun bisa dikalahkan.
Apa yang Harus Dilakukan De Zerbi Selanjutnya?
Dengan jadwal Premier League yang padat, De Zerbi tidak punya banyak waktu untuk meratapi kekalahan ini. Beberapa hal yang perlu segera ditangani pelatih asal Brescia, Italia itu antara lain:
- Membangun kepaduan tim — De Zerbi sendiri mengakui bahwa skuadnya belum berfungsi sebagai unit yang kohesif. Sesi latihan intensif dan jam terbang bersama adalah satu-satunya obat.
- Meningkatkan kebugaran fisik — Ia menyebut kondisi fisik tim belum optimal. Manajemen beban latihan pramusim harus dievaluasi.
- Memperbaiki mentalitas dalam duel — De Zerbi secara eksplisit menyebutkan bahwa timnya “tidak siap untuk memenangkan duel”. Ini adalah masalah mentalitas dan intensitas, bukan sekadar kualitas teknis.
- Mengintegrasikan pemain baru — Pembelian mahal seperti Savinho dan lainnya perlu waktu untuk memahami sistem De Zerbi yang kompleks dan membutuhkan pemain yang sudah mengerti peran mereka dengan baik.
- Menjaga kepercayaan diri skuad — Kekalahan besar di laga pembuka bisa merembet ke permainan selanjutnya jika tidak ditangani dengan kepemimpinan yang baik.
Publik sepak bola, terutama di Indonesia, akan mengamati dengan seksama bagaimana De Zerbi merespons tekanan ini. Ia telah membuktikan kualitasnya sebagai pelatih di Brighton dan Marseille — kini pertanyaannya adalah apakah ia bisa melakukan hal yang sama di Tottenham dengan tekanan dan ekspektasi yang jauh lebih besar.
Pandangan ke Depan: Premier League 2026-27 Baru Saja Dimulai
Satu kekalahan di pekan pertama belum menentukan nasib sebuah tim sepanjang musim. Sejarah Premier League penuh dengan contoh tim yang memulai musim dengan buruk tetapi akhirnya mampu bangkit dan bersaing di papan atas. Namun, kekalahan 3-0 dari Brentford — dengan statistik yang begitu menyolok — memberikan gambaran bahwa Tottenham masih memiliki pekerjaan rumah yang besar.
Sementara itu, Brentford memulai musim dengan sempurna dan mengirim pesan kepada seluruh liga bahwa mereka sekali lagi siap menjadi tim yang paling merepotkan untuk dihadapi. Thomas Frank dan para pemainnya membuktikan bahwa filosofi permainan yang terstruktur, persiapan matang, dan semangat tim yang solid bisa mengatasi perbedaan anggaran yang sangat besar.
Bagi para penggemar sepak bola di Indonesia — salah satu basis pendukung Premier League terbesar di dunia — musim 2026-27 menjanjikan drama dan kejutan yang tidak kalah seru dari musim-musim sebelumnya. Pekan pertama saja sudah memberikan dua kejutan besar: Hull City mengalahkan Manchester United dan Brentford melumat Tottenham. Musim ini tampaknya tidak akan ada tim yang bisa bersantai.
Laporan lengkap pertandingan tersedia di ESPN, yang mencatat semua statistik dan jalannya pertandingan secara detail.
Sources
- Roberto De Zerbi: Tottenham boss admits ‘we’re not a team yet’ after new-look side suffer dismal Brentford loss — skysports.com
- Roberto De Zerbi says Tottenham are ‘not a team’ and hits out at lack of fight — theguardian.com
- ESPN — espn.com
- We are NOT a team yet | Roberto De Zerbi | Brentford 3-0 Spurs — youtube.com
- DE ZERBI: “WE PLAYED VERY, VERY BAD!” 😡 Brentford 3-0 Tottenham ⚽ Premier League — youtube.com



