Messi Pensiun dari Timnas Argentina: Siapa Kapten Berikutnya setelah 207 Cap dan 125 Gol?

Ditinjau oleh Eko Nugroho
Ringkasan

Lionel Messi resmi pensiun dari timnas Argentina pada 31 Agustus 2026 setelah 207 cap dan 125 gol. Siapa yang jadi kapten La Albiceleste berikutnya?

10 menit baca

Lionel Messi, pemain terbesar sepanjang sejarah Argentina, secara resmi mengumumkan pensiun dari tim nasional pada 31 Agustus 2026, mengakhiri karier internasional luar biasa yang mencakup 207 penampilan dan 125 gol — menjadikannya pencetak gol terbanyak dan pemain paling banyak tampil sepanjang sejarah La Albiceleste. Pengumuman tersebut disampaikan melalui Instagram dalam bentuk tulisan tangan di buku catatan, memicu gelombang emosi dari seluruh penjuru dunia sepak bola, sekaligus membuka pertanyaan besar: siapa yang akan menjadi kapten Argentina selanjutnya?

Pengumuman Mengejutkan di Instagram: Kata-kata Perpisahan Messi

Dalam unggahan Instagram yang telah ditunggu-tunggu jutaan penggemar di seluruh dunia, Messi menulis dengan tangan — sebuah gaya yang sangat personal dan emosional, jauh dari pernyataan resmi korporat yang biasa. Pesan itu ditulis pada 21 Juli 2026, dua hari setelah Argentina kalah di final Piala Dunia 2026, namun baru dipublikasikan ke publik pada 31 Agustus 2026.

Menurut laporan The Guardian, Messi menulis dalam pernyataannya: “Setelah waktu yang berlalu sejak final, setelah banyak berpikir, saya ingin memberi tahu semua orang bahwa saya pensiun dari tim nasional. Ini adalah keputusan yang menyakiti jiwa saya, tapi saya tahu inilah saatnya.”

Messi melanjutkan dengan penuh emosi: “Saya bisa katakan dengan pasti bahwa saya selalu memberikan segalanya… dan saya selalu berjuang dan memberikan segalanya untuk jersey ini… Tidak lama lagi dan babak-babak akan berakhir — dan ini adalah salah satu yang sangat menyakiti saya. Saya mencintai, telah mencintai, dan akan selalu mencintai menjadi bagian dari tim nasional. Saya telah menguras diri sendiri: sekarang saya tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan…”

Pernyataan ini langsung viral di seluruh dunia, dengan jutaan reaksi mengalir dalam hitungan jam. Menurut Reuters, warga Argentina berduyun-duyun menyampaikan terima kasih kepada Messi atas “semua kegembiraan yang telah ia berikan.”

Faktor di Balik Keputusan: Kekalahan di Final dan Kehilangan Sang Ayah

Keputusan Messi untuk pensiun dari timnas tidak datang begitu saja. Dua faktor utama mendorong keputusan tersebut. Pertama, kekalahan Argentina di final Piala Dunia 2026 pada 19 Juli 2026 — hasil yang menghancurkan bagi Messi yang berharap mengakhiri kariernya internasional dengan gelar dunia kedua. Kedua, dan yang lebih personal, adalah kematian ayahnya, Jorge Messi, pada awal Agustus 2026.

Reuters melaporkan bahwa Messi sendiri mengakui kehilangan ayahnya membuat dirinya “lebih yakin dari sebelumnya” untuk melanjutkan keputusan pensiun tersebut. Jorge Messi bukan hanya ayah biologis, tetapi juga sosok yang mengorbankan segalanya untuk membawa Leo muda dari Rosario ke Barcelona — termasuk negosiasi terkenal kontrak pertama Messi di atas serbet kertas di La Masia. Kepergian sang ayah menjadi momen refleksi mendalam bagi sang legenda.

Menurut ESPN, unggahan tersebut disampaikan pada 31 Agustus 2026 melalui akun Instagram resmi Messi, yang memiliki ratusan juta pengikut, memastikan pesan tersebut langsung menjangkau seluruh dunia dalam hitungan menit.

Lionel Messi merayakan gol bersama timnas Argentina di stadion penuh penonton

Statistik Karier Internasional Messi yang Tak Tertandingi

Angka-angka yang ditinggalkan Messi bersama Argentina berbicara sendiri. Dalam 207 penampilan untuk La Albiceleste — rekor terbanyak sepanjang sejarah Argentina — ia mencetak 125 gol, juga rekor seumur hidup yang akan sangat sulit untuk dilampaui siapa pun.

StatistikAngkaStatus
Total penampilan207Rekor Argentina all-time
Total gol125Rekor pencetak gol terbanyak Argentina
Piala Dunia dimenangi1 (Qatar 2022)Gelar puncak karier
Copa América dimenangi22021, 2024
Debut internasional17 Agustus 2005vs Hungaria, usia 18 tahun
Pensiun internasional31 Agustus 2026Usia 39 tahun

BBC Sport dalam laporannya pada 31 Agustus 2026 menegaskan bahwa Messi pensiun sebagai pencetak gol terbanyak dan pemain paling banyak tampil dalam sejarah Argentina — dua rekor yang kemungkinan besar akan bertahan selama beberapa dekade mendatang.

Perjalanan Messi bersama Argentina tidak selalu mulus. Ia sempat mengumumkan pensiun dari timnas pada 2016 setelah kalah di final Copa América Centenario melawan Chile, namun kemudian kembali atas desakan para penggemar dan rekan setim. Kali ini, pada usia 39 tahun dan setelah kekalahan di final Piala Dunia 2026, keputusan itu tampak definitif.

Reaksi Dunia Sepak Bola: Dari Buenos Aires hingga Barcelona

Pengumuman pensiun Messi memicu banjir reaksi dari seluruh dunia sepak bola. Di Buenos Aires, ribuan penggemar berkumpul di berbagai sudut kota, berbagi kenangan dan menyalakan lilin sebagai bentuk penghormatan. Media Argentina menyebut 31 Agustus 2026 sebagai “hari yang menyedihkan tapi tak terhindarkan” dalam sejarah sepak bola negara tersebut.

The Guardian dalam liputannya mencatat bahwa Messi sendiri mengakui ada “pemain-pemain muda berbakat yang sedang berkembang dan layak untuk dipilih” — sebuah tanda bahwa ia melihat generasi penerus Argentina sudah siap untuk mengambil alih tongkat estafet. Komentar ini sekaligus menjadi petunjuk awal mengenai pandangannya tentang masa depan La Albiceleste.

Di media sosial, tagar #GraciasMessi dan #MessiRetires langsung bertengger di posisi teratas tren global di berbagai platform. Mantan rekan setim, pelatih, dan tokoh-tokoh sepak bola dari berbagai penjuru dunia menyampaikan penghormatan kepada sosok yang banyak dianggap sebagai pemain terbaik yang pernah ada.

Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, berita ini juga mengguncang. Argentina memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air, terutama setelah kemenangan Piala Dunia 2022 di Qatar yang disambut meriah. Momen Messi mengangkat trofi dunia kala itu menjadi salah satu gambar paling ikonik dalam sejarah olahraga modern. Sebelumnya, dalam konteks yang berbeda, Mourinho juga menyebut Jude Bellingham sebagai kandidat kuat Ballon d’Or 2026 — namun dengan Messi kini absen dari pentas internasional, persaingan untuk penghargaan tertinggi individu sepak bola juga akan mengalami pergeseran signifikan.

Siapa Kapten Argentina Selanjutnya? Lima Kandidat Kuat

Pertanyaan yang kini menjadi perdebatan hangat di seluruh dunia sepak bola: siapa yang akan mengenakan ban kapten Argentina setelah Messi? Ini bukan sekadar pertanyaan taktis, melainkan juga pertanyaan simbolis yang sangat berat — mewarisi ban kapten dari pemain terbaik sepanjang masa adalah tanggung jawab yang luar biasa.

Menurut laporan World Soccer Talk, nama yang paling sering muncul sebagai kandidat utama adalah Cristian Romero, bek tengah Tottenham Hotspur yang dikenal sebagai pemimpin vocal di lapangan dan tokoh kunci di lini pertahanan Argentina. Beberapa laporan dari media Argentina bahkan menyebut Romero telah diberikan ban kapten, meskipun belum ada pengumuman resmi dari Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) pada saat artikel ini ditulis.

Selain Romero, ada beberapa nama lain yang masuk dalam radar sebagai kandidat kapten:

  • Lautaro Martínez — Kapten Inter Milan, striker tajam yang memimpin lini depan Argentina dengan 20 gol dalam 80 penampilan internasional terakhirnya. Pengalamannya memimpin klub elite Eropa menjadi modal berharga. Bolavip melaporkan ia sebagai salah satu kandidat paling masuk akal.
  • Julián Álvarez — Mantan bintang Manchester City yang kini bermain di Atlético Madrid, sosok yang masih berusia muda namun sudah menunjukkan kepemimpinan di level tertinggi. Ia mencetak gol krusial di Piala Dunia 2022 dan menjadi andalan lini depan Argentina.
  • Rodrigo De Paul — Gelandang Atlético Madrid yang dikenal sebagai “motor” Argentina di lini tengah. De Paul adalah sosok yang selalu hadir di sisi Messi, vokal di dalam ruang ganti, dan dihormati rekan setim. Namun usianya yang sudah 32 tahun membuat beberapa pihak mempertanyakan apakah ia pilihan jangka panjang.
  • Cristian Romero — Bek tengah yang dikenal agresif dan penuh semangat, pemimpin alami di lini pertahanan yang telah membuktikan diri di Premier League bersama Spurs.
  • Enzo Fernández — Gelandang yang kini hengkang ke Manchester City, masih muda namun sudah menunjukkan karakter pemimpin sejati.

Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, belum secara resmi mengumumkan siapa yang akan menjadi kapten baru. Keputusan tersebut kemungkinan akan diumumkan menjelang sesi latihan timnas Argentina berikutnya untuk pertandingan kualifikasi atau turnamen internasional mendatang.

Warisan Messi: Lebih dari Sekadar Gol dan Trofi

Menilai warisan Messi bersama Argentina hanya dari angka statistik adalah melakukan ketidakadilan terhadap karier yang penuh nuansa dan perjuangan. Perjalanannya bersama La Albiceleste adalah kisah yang penuh pasang surut — dari tekanan luar biasa sebagai “penyelamat” yang diharapkan membawa Argentina ke kejayaan, hingga kritik pahit setelah beberapa kekalahan di final, dan akhirnya redemption yang sempurna di Qatar 2022.

Messi pertama kali tampil untuk Argentina pada 17 Agustus 2005, dalam laga melawan Hungaria ketika ia baru berusia 18 tahun. Lebih dari dua dekade kemudian, ia pensiun sebagai pemain yang telah mengubah cara dunia memandang sepak bola Argentina — dan sepak bola secara keseluruhan.

Selama bertahun-tahun, Messi harus menanggung beban yang tidak adil: perbandingan terus-menerus dengan Diego Maradona, legenda yang mengangkat Argentina ke puncak dunia pada 1986. Kritikus menganggap Messi tidak bisa menjadi legenda sejati Argentina jika belum memenangkan Piala Dunia. Semuanya terjawab pada malam bersejarah di Lusail Stadium, Qatar, 18 Desember 2022, ketika Argentina mengalahkan Prancis melalui adu penalti dan Messi mengangkat trofi Piala Dunia dengan mata berkaca-kaca.

Kini, di usia 39 tahun, Messi memutuskan bahwa cukup sudah. Keputusan ini dihormati oleh semua pihak yang memahami betapa banyak yang telah ia berikan selama 21 tahun karier internasional.

Dampak terhadap Tim Nasional Argentina ke Depan

Pertanyaan strategis yang kini dihadapi Scaloni dan AFA adalah bagaimana Argentina berevolusi tanpa kehadiran Messi. Selama bertahun-tahun, sistem permainan Argentina dibangun di sekitar Messi — baik secara eksplisit maupun implisit. Pemain lain menyesuaikan diri dengan keberadaannya, lawan menyusun strategi untuk menghentikannya, dan seluruh narasi pertandingan sering kali bergantung pada performanya.

Tanpa Messi, Argentina tetap memiliki skuad yang sangat kompetitif. Lautaro Martínez adalah salah satu striker terbaik dunia saat ini. Julián Álvarez terus berkembang menjadi pemain kelas dunia. Di lini tengah, ada Enzo Fernández dan De Paul. Di pertahanan, ada Romero dan Lisandro Martínez. Generasi ini membuktikan kualitasnya di Piala Dunia 2026, meskipun akhirnya gagal di final.

Namun secara psikologis dan simbolis, kehilangan Messi adalah sesuatu yang tidak bisa begitu saja digantikan. Ia bukan hanya pemain — ia adalah simbol, inspirasi, dan energi yang menyatukan seluruh tim. Kapten baru, siapa pun yang terpilih, akan memikul tanggung jawab yang sangat berat.

Paralel menarik bisa ditarik dengan situasi lain di sepak bola dunia: ketika pemain ikonik seperti Cristiano Ronaldo atau Xavi Hernández mundur dari peran sentral mereka, tim-tim yang ditinggalkan butuh waktu untuk menemukan identitas baru. Argentina kemungkinan akan mengalami proses adaptasi serupa.

Konteks: Messi Masih Aktif di Inter Miami

Penting untuk dicatat bahwa pensiun Messi hanya berlaku untuk karier internasional bersama tim nasional Argentina. Ia masih aktif bermain di level klub bersama Inter Miami di Major League Soccer (MLS), di mana kontraknya masih berjalan. Artinya, penggemar sepak bola masih bisa menyaksikan Messi bermain, meskipun bukan lagi mengenakan jersey biru-putih Argentina.

Di Inter Miami, Messi tetap menjadi daya tarik luar biasa — baik secara komersial maupun di atas lapangan. Kehadirannya di MLS telah mengubah lanskap sepak bola Amerika Serikat secara fundamental, mendorong peningkatan penonton, rating televisi, dan minat sponsor yang belum pernah terjadi sebelumnya di liga tersebut.

Namun bagi Argentina dan para penggemarnya di seluruh dunia — termasuk jutaan suporter di Indonesia — babak internasional itu kini resmi tertutup. Jersei nomor 10 Argentina yang identik dengan Messi akan dikenakan oleh pemain lain, membawa harapan baru bagi generasi yang akan datang.

Apa yang Terjadi Selanjutnya bagi Argentina?

Dalam beberapa minggu dan bulan ke depan, mata dunia akan tertuju pada beberapa perkembangan kunci:

  • Pengumuman kapten baru — AFA dan Scaloni diperkirakan akan mengumumkan kapten definitif sebelum jeda internasional berikutnya. Cristian Romero saat ini menjadi favorit berdasarkan laporan yang beredar.
  • Nomor 10 Argentina — Keputusan siapa yang akan mengenakan nomor keramat 10 Argentina akan menjadi momen simbolis penting. AFA bisa memilih untuk “melepaskannya” kepada pemain lain, atau bahkan mempertimbangkan untuk tidak menggunakannya untuk sementara sebagai penghormatan.
  • Kualifikasi Piala Dunia 2030 — Argentina sebagai juara bertahan Piala Dunia 2022 dan peserta Piala Dunia 2026 akan terus berjuang dalam siklus kualifikasi. Tanpa Messi, dinamika tim akan berubah secara signifikan.
  • Copa América ke depan — Argentina akan kembali bersaing di Copa América berikutnya tanpa kapten abadi mereka.

Satu hal yang pasti: era Messi di timnas Argentina sudah berakhir. Namun warisannya — 207 penampilan, 125 gol, satu Piala Dunia, dua Copa América, dan jutaan kenangan tak terlupakan — akan hidup selamanya dalam sejarah sepak bola. Seperti yang ditulis Messi sendiri dalam catatan hariannya yang kini menjadi dokumen bersejarah: “Saya mencintai, telah mencintai, dan akan selalu mencintai menjadi bagian dari tim nasional.”

Argentina kini memasuki era baru. Babak selanjutnya tanpa nomor 10 legendaris mereka siap dimulai — dan dunia menanti dengan penuh antisipasi siapa yang akan mewarisi tanggung jawab besar itu.

Sources

Photo: Bryan Berlin, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Bagikan rasa suka Anda
Rizky Pratama, LifeBogger author

Rizky Pratama

Halo! Saya Rizky Pratama, penggemar sepak bola dan penulis LifeBogger untuk pembaca Indonesia. Saya menulis tentang masa kecil dan biografi para pesepak bola — menelusuri asal-usul, keluarga, dan tahun-tahun awal mereka jauh sebelum sorotan kamera datang. Bagi saya, cerita yang paling menarik selalu dimulai dari lapangan kampung, bukan dari stadion megah.

Artikel: 40

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *